Tangerang Selatan – Universitas Terbuka (UT) terus memperkokoh posisinya sebagai pionir Green Campus di Indonesia dengan mewujudkan revolusi infrastruktur berbasis teknologi cerdas (Smart Campus). Sepanjang tahun 2026, UT berhasil mengintegrasikan efisiensi energi tingkat tinggi, digitalisasi sistem gedung, dan adopsi energi terbarukan yang kini menyumbang lebih dari separuh kebutuhan listrik kampus.
Standar Green Building dan Digitalisasi Gedung
Transformasi terbesar UT terlihat dari penerapan konsep bangunan pintar (Smart Building). Saat ini, 9 gedung utama di lingkungan UT, yang mencakup 79,06% atau seluas 60.573 m² dari total area bangunan, telah berstatus sebagai Smart Building. Seluruh operasional di dalam gedung—mulai dari panel distribusi listrik, tata udara (AC), pencahayaan, tangki air, hingga sistem pompa—dikendalikan dan dipantau secara real-time melalui Building Automation System (BAS).
Tidak hanya canggih, infrastruktur UT juga telah memenuhi standar keamanan dan lingkungan yang ketat. Seluruh bangunan utama telah mengantongi Sertifikat Laik Fungsi (SLF), Sertifikat Laik Operasi (SLO) Kelistrikan, sertifikasi sistem pemadam kebakaran, serta Izin Lingkungan (AMDAL).
Langkah Agresif Konservasi Energi
UT mencatatkan penurunan konsumsi listrik yang signifikan, yakni turun 10% menjadi 295.650 kWh pada tahun 2026. Pencapaian ini merupakan hasil dari modernisasi perangkat keras secara masif, salah satunya adalah penggantian 450 unit PC desktop konvensional (500W) menjadi laptop (65W) untuk seluruh pegawai, yang menghemat konsumsi energi perangkat keras hingga 85%.
Efisiensi lebih lanjut didapatkan melalui pemasangan 2.100 titik lampu LED, 180 sensor otomatis pada keran air dan lampu toilet, serta peralihan ke AC Inverter sentral berteknologi pendingin R-32 yang ramah ozon. Untuk menanamkan budaya sadar lingkungan, UT juga menggalakkan kampanye hemat energi dengan memasang stiker dan banner imbauan di seluruh area saklar gedung.
Laporan Statistik Penghematan Daya
Laporan ini menyajikan data kuantitatif mengenai efisiensi energi yang dicapai melalui tiga inisiatif utama, dengan total kontribusi sebesar 355 kW.
Kontribusi terbesar dalam pengurangan beban daya melalui penggunaan perangkat komputasi yang lebih efisien.
Penghematan signifikan yang dihasilkan dari modernisasi sistem pencahayaan di seluruh area operasional.
Efisiensi pendinginan ruangan yang memberikan dampak langsung pada pengurangan konsumsi daya total.
Kemandirian Energi Melalui Tenaga Surya dan Potensi Air
Langkah paling revolusioner UT dalam memerangi perubahan iklim adalah investasi pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Total kapasitas PLTS di UT kini telah mencapai 105 kWp, yang tersebar di atap gedung (60 kWp), gerbang ikonik UT (23 kWp), 80 tiang lampu jalan surya (16 kWp), serta shelter sepeda pintar (6 kWp).
Sebaran kapasitas PLTS di kampus UT
Infrastruktur energi terbarukan ini mampu memproduksi 195.457 kWh energi bersih setiap tahunnya, menyumbang 66% dari rasio total penggunaan energi kampus. Transisi masif ini berhasil menekan 163 ton emisi CO₂ per tahun, sebuah dampak ekologis yang setara dengan menanam 7.500 pohon dewasa.
Selain tenaga surya, UT juga tengah mengkaji kelayakan pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro dari arus sungai kampus dengan potensi daya mencapai 75 kW. Sebagai pendukung operasional, kampus ini turut menyiagakan 11 unit generator cadangan berkapasitas total 5.950 kVA yang menggunakan bahan bakar Perta-Dex yang terbukti lebih rendah emisi.
Keseluruhan integrasi infrastruktur ini menjadikan Universitas Terbuka bukan sekadar institusi pendidikan masa depan, melainkan laboratorium hidup bagi praktik keberlanjutan dan kemandirian energi di Indonesia.
