TANGERANG SELATAN, 2026 – Universitas Terbuka (UT) terus memperkuat langkah nyata dalam mewujudkan ekosistem kampus yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Sebagai institusi pendidikan tinggi terkemuka, UT berkomitmen penuh untuk menekan angka emisi karbon di area kampus melalui strategi integratif. Langkah ini diwujudkan melalui perpaduan penyediaan sarana transportasi ramah lingkungan serta penerapan kebijakan kerja fleksibel bagi seluruh civitas akademika.
UT menegaskan bahwa program strategis ini mencakup penyediaan berbagai moda kendaraan bebas emisi. Seluruh fasilitas mutakhir ini disediakan secara gratis demi memfasilitasi mobilitas civitas akademika, baik untuk keperluan internal di dalam kawasan kampus maupun untuk menunjang operasional kedinasan di luar kampus.
Armada Bersih dan Infrastruktur Pengisian Daya Gratis
Hingga saat ini, UT telah mengoperasikan armada bebas emisi yang cukup masif untuk mobilitas internal. Armada tersebut terdiri dari mobil golf listrik (buggy car), sepeda listrik, skuter listrik, dan sepeda kuning. Selain armada internal, tersedia pula 11 unit mobil listrik jenis sedan yang dimiliki oleh staf maupun yang difungsikan khusus sebagai kendaraan dinas pimpinan untuk perjalanan dinas luar kampus.
Untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle) ini, UT telah membangun infrastruktur penunjang yang mumpuni di area parkir kampus. Infrastruktur tersebut berupa 1 unit Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) berkapasitas ganda serta 5 titik stasiun pengisian daya khusus untuk kendaraan listrik roda dua.
Demi mendorong budaya ramah lingkungan yang inklusif, semua fasilitas pengisian daya ini dapat diakses secara cuma-cuma (free of charge) oleh karyawan maupun masyarakat umum yang sedang berkunjung ke lingkungan kampus UT.
Efektivitas Kebijakan WFH Hari Jumat Tekan Emisi Maksimal
Tidak hanya berfokus pada pengadaan fisik kendaraan, UT juga menerapkan strategi berbasis tata kelola kerja yang inovatif melalui kebijakan Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah yang dijadwalkan setiap hari Jumat. Kebijakan ini menyasar para staf administrasi dan dosen yang tidak sedang mengemban tugas pelayanan publik langsung yang mengharuskan kehadiran fisik di tempat.
Skema WFH ini terbukti memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap lingkungan kerja. Berdasarkan data internal kampus, kebijakan ini mencatat terjadinya penurunan jumlah personel yang hadir secara fisik hingga mencapai 70% setiap hari Jumat. Penurunan mobilitas massal ini membawa manfaat ganda (dual benefit) yang nyata bagi lingkungan sekitar. Melalui integrasi kebijakan transportasi bersih dan sistem kerja hibrida (hybrid working) ini, UT membuktikan bahwa institusi akademik mampu mempertahankan keunggulan performa operasionalnya sekaligus bertindak nyata dalam mitigasi perubahan iklim global demi masa depan yang lebih hijau.
