Wujudkan Kampus Ramah Disabilitas dan Minim Emisi, Universitas Terbuka Perluas Jalur Pedestrian Beratap Berbasis Tenaga Surya

Wujudkan Kampus Ramah Disabilitas dan Minim Emisi, Universitas Terbuka Perluas Jalur Pedestrian Beratap Berbasis Tenaga Surya
Lampu taman dan jalur pedestrian beratap berbasis tenaga surya
Foto : Lampu taman dan jalur pedestrian beratap berbasis tenaga surya (Dokumentasi UT)

TANGERANG SELATAN, 2026 – Universitas Terbuka (UT) terus memperkuat komitmennya dalam membangun ekosistem kampus yang hijau, inklusif, dan berkelanjutan. Langkah ini diwujudkan melalui penataan ulang infrastruktur jalur pejalan kaki (pedestrian pathways) di area kampus utama untuk menjamin kenyamanan dan keselamatan seluruh civitas akademika serta masyarakat umum.

Lampu Surya57lampu jalan pintar bertenaga surya
Peta Digital5indikator utama jalur pedestrian
Hutan Buatan2manfaat utama bagi lingkungan kampus

Dalam rancangan tata ruang, UT menerapkan pemisahan tegas antara akses kendaraan bermotor dan area pejalan kaki guna meminimalisasi risiko kecelakaan. Sebagian besar jalur pedestrian dinaungi pepohonan rimbun yang sejuk untuk mengurangi emisi kendaraan bermotor. Selain itu, UT menyediakan fasilitas jalur penghubung beratap (covered walkways) antar-gedung untuk melindungi pejalan kaki dari panas matahari dan hujan. Sebagai bentuk nyata dari inklusivitas, UT membangun fasilitas ramp bagi penyandang disabilitas fisik, khususnya pengguna kursi roda.

Untuk pencahayaan malam hari, UT mengoperasikan 57 unit lampu jalan pintar bertenaga surya (solar-powered streetlights). Lampu otomatis ini bekerja menggunakan sensor cahaya matahari—menyala saat senja dan padam saat fajar—sebagai bentuk efisiensi energi dan upaya penekanan emisi karbon.

UT menyediakan dokumen pendukung komprehensif berupa galeri foto dan peta digital yang memuat 5 indikator utama:

  1. Pembatas fisik (separator) jalur kendaraan dan pedestrian.
  2. Koridor hijau.
  3. Kanopi beratap penghubung antar-gedung.
  4. Fasilitas ramp untuk penyandang disabilitas.
  5. Jaringan 57 unit lampu jalan bertenaga surya otomatis.

Pembentukan dan pemeliharaan hutan buatan (artificial forest) di area kampus memberikan dua manfaat lingkungan utama:

  • Penyerapan Karbon & Efisiensi Energi: Bertindak sebagai carbon sink alami yang menyerap gas rumah kaca (GRK) dan menurunkan suhu mikro kampus, sehingga mengurangi penggunaan pendingin udara (AC).
  • Konservasi Hayati & Resapan Air: Menjadi habitat flora dan fauna lokal serta meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah untuk pengisian air tanah dan pengelolaan air limpasan hujan (stormwater management).

Melalui integrasi fasilitas inklusif, energi terbarukan, dan perluasan ruang hijau, UT menjadi contoh nyata lembaga pendidikan tinggi yang menyelaraskan pembangunan fisik dengan kelestarian lingkungan.

Lainnya

Berita lainnya