Dari Pondok Cabe ke Birkenfeld - Jerman, dua tim peneliti Universitas Terbuka membawa isu iklim mikro kampus dan kebiasaan hijau di pendidikan jarak jauh ke IWGM 2026 — forum yang tuan rumahnya sendiri baru dinobatkan kampus nomor satu dunia untuk kategori Teaching and Research versi UI GreenMetric.
Tangerang Selatan – Akhir Juni 2026, dua karya ilmiah dari UT dinyatakan lolos untuk tampil di International Workshop on UI GreenMetric Sustainable University Rankings (IWGM) 2026 — forum tahunan yang digagas Universitas Indonesia sejak 2010 dan kini diikuti lebih dari 2000 perguruan tinggi dari 105 negara di dunia.
IWGM terbiasa berpindah tuan rumah dari satu benua ke benua lain. Setelah Portugal (2023), Kolombia (2024), dan Prancis (2025), edisi ke-12 tahun ini digelar 24–26 Agustus di Umwelt-Campus Birkenfeld — kampus di kawasan Hunsrück, Jerman barat, yang menyebut dirinya satu-satunya “Zero Emission University” di Eropa, dan baru-baru ini dinobatkan sebagai kampus terbaik dunia untuk kategori Teaching and Research dalam ranking UI GreenMetric yang sama.
Sesi Poster
Spatial Correlation Analysis of NDVI and LST as a Basis for Predictive Microclimate Modeling on Campus: A Case Study of the Universitas Terbuka, Indonesia
Mirza Permana, dosen Perencanaan Wilayah dan Kota · tema Managing Setting and Infrastructure
Sesi Paralel
When Infrastructure Meets Habit: A Human-Based Green University Framework for Distance Education
Dr. Rini Dwiyani Hadiwidjaja beserta tim · tema Managing Waste, Governance and Digitalization
Surat pertama untuk Mirza Permana, dosen Perencanaan Wilayah dan Kota yang sejak 2024 menakhodai Green University Task Force UT. Posternya, “Spatial Correlation Analysis of NDVI and LST as a Basis for Predictive Microclimate Modeling on Campus: A Case Study of the Universitas Terbuka, Indonesia,” diterima di sesi poster bertema Managing Setting and Infrastructure. Intinya: memetakan hubungan antara tutupan vegetasi dan suhu permukaan di kampus UT, lalu memakai pola itu untuk memprediksi ke mana arah mikroiklim kampus bergerak — dasar yang bisa dipakai untuk menata ulang ruang hijau kampus secara terukur, bukan sekadar menambah pot tanaman di depan gedung.
Surat kedua ditujukan ke tim yang lebih besar: Dr. Rini Dwiyani Hadiwidjaja beserta tim mempresentasikan artikel yang berjudul “When Infrastructure Meets Habit: A Human-Based Green University Framework for Distance Education,” lolos ke sesi paralel bertema Managing Waste, Governance and Digitalization. Judulnya menyasar persoalan yang sering luput: infrastruktur hijau tercanggih apa pun percuma kalau kebiasaan penggunanya tidak ikut berubah. Di kampus dengan gedung dan mahasiswa yang berkumpul tiap hari, itu saja sudah rumit diurus. Di UT — kampus jarak jauh terbesar di Indonesia, dengan mahasiswa dan tutor tersebar dari Sabang sampai Merauke tanpa pernah berbagi ruang kelas fisik yang sama — pertanyaannya jadi berlipat: bagaimana menanamkan kebiasaan hijau pada komunitas yang nyaris tidak pernah bertemu?
Ditampilkan berdampingan di forum yang sama, dua riset ini sebenarnya menjawab satu pertanyaan dari dua arah berbeda. Yang satu membaca kampus lewat data spasial dan citra satelit. Yang lain membaca kampus lewat perilaku manusianya. Keduanya bertumpu pada argumen yang sama: kampus tanpa bentang fisik seluas kampus konvensional tetap punya alasan, dan cara kerja tersendiri, untuk ambil bagian serius dalam pembicaraan sustainability kampus dunia.
Bagi UT, keikutsertaan di IWGM bukan sekadar tambahan baris di laporan tahunan. Sejak UT Green University Task Force dibentuk, agenda kampus hijau punya penanggung jawab yang jelas, dan forum sekelas ini jadi salah satu tempat paling terbuka untuk diuji: apakah agenda itu benar-benar berjalan, atau baru sebatas rencana di atas kertas.
